JemberTourisms.com, Rembangan adalah tempat wisata di Jember, Jawa Timur. Terletak di kaki Gunung Argopuro, kompleks ini dikenal karena pemandangan panoramanya dan kebun buah naganya.

Lokasi dan fasilitas
Kolam renang di hotel
Rembangan terletak kurang lebih 12 kilometer (7,5 mi) di sebelah utara kota Jember, tepatnya di kaki Gunung Argopuro. Tempat ini berdiri di lahan seluas 1.345 hektare (3.320 ekar) di ketinggian 650 meter (2.130 ft) di atas permukaan laut. Suhu rata-ratanya berkisar antara 18 °C (64 °F) dan 25 °C (77 °F). Secara administratif, Rembangan adalah bagian dari Desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa, Jember, Jawa Timur. Tempat ini dikelola oleh pemerintah daerah Jember.
Jalan menuju Rembangan dijajari banyak kebun buah naga. Ada pula beberapa perkebunan kopi di daerah ini yang dibuka untuk umum pada hari kerja. Hingga 2011, tidak ada transportasi umum menuju puncak, tetapi pengunjung bisa menyewa sepeda motor atau mobil.

Di Rembangan terdapat hotel yang dibangun pada masa kolonial Belanda. Hotel berkamar 41 ini memiliki kolam renang dan kebun yang dipakai untuk beristirahat dan rekreasi. Di halaman hotel terdapat kebun buah naga yang terdiri dari 600 tumbuhan. Buah-buahannya boleh dipetik dan dipungut biaya. Buah naga di daerah ini merupakan oleh-oleh yang paling sering dibawa pulang pengunjung. Hotel ini menyediakan akomodasi bagi wisatawan dan ruang konferensi, seminar, dan lokakarya. Fasilitas lainnya meliputi kolam pemandian dari sumber air pegunungan.
Wisata Rembangan Terletak di Desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa, dan berlokasi sekitar 15 kilometer ke arah utara Kota Jember, Rembangan adalah salah satu tempat wisata sekaligus sejarah yang menjadi ikon spektakuler Jember. Tempat wisata yang mempunyai ketinggian antara 600 hingga 900 meter di atas permukaan air laut (mdpl) tersebut telah didirikan sejak tahun 1937. Yakni pada saat pemerintahan Hindia Belanda dengan pimpinan Mr Hofside.

“Tempat ini sengaja dibuat untuk mengamati hasil perkebunan di zaman Belanda,” ungkap pengelola objek wisata Rembangan, Sugeng Riyadi. Mengingat, kala itu Rembangan dikelilingi kebun kopi.
Seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan yang terjadi di Indonesia sekitar tahun 1950, Rembangan mulai mendapatkan perhatian dari Pemerintah Daerah Tingkat II Jember. Yakni dengan cara melakukan pengembangan fasilitas-fasilitas yang berkaitan dengan infrastruktur wisata Rembangan. Alhasil, tempat magis ini mampu menarik minat penikmat jasa wisata.
Meningkatnya jumlah konsumen yang menikmati jasa wisata tersebut membuat pemerintah kembali melakukan pembenahan pada 1960. “Pembenahan total dengan menawarkan paket wisata ganda, yaitu objek wisata dan hotel,” ujar Sugeng. Mulai perbaikan dan pembenahan kolam renang, penambahan jumlah kamar hotel, hingga perbaikan restoran dengan menambahkan menu makanan dan minuman.
Objek wisata Rembangan saat itu dipimpin oleh seorang manajer yang berkedudukan sebagai pegawai negeri sipil berdasar peraturan pemerintah. Sebab, pemerintah daerah lebih memercayai golongan pegawai negeri dalam melaksanakan tugasnya. Lebih lanjut, masa kepemimpinan selama lima tahun dan masa jabatan dapat diperpanjang jika kepemimpinannya berprestasi.
Sugeng menyebut bahwa pengembangan internal objek wisata Rembangan masih terus dilakukan setelahnya. Termasuk pengembangan hotel. Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan adanya penambahan jumlah tenaga kerja serta perbaikan dan penambahan fasilitas-fasilitas dari tahun ke tahun.
Sementara itu, wisata dengan curah hujan rata-rata 2.426 mm per tahun serta suhu udara berkisar 18-25 derajat Celcius itu menawarkan kesejukan dan keindahan alam lantaran posisinya terletak di lereng pegunungan. Nah, untuk saat ini, dia menjelaskan bahwa masyarakat Jember hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 5 ribu untuk anak-anak dan Rp 7,5 ribu untuk orang dewasa jika hendak menikmati pemandangan Kota Jember dari ketinggian saat berada di Rembangan.
Peta Lokasi Wisata Rembangan Jember

